JURUS MENDATANGKAN
Setelah selesai ceramah, pak Kiai membuka sesi diskusi.
Sudah jadi tradisi, materi yang disampaikan Pak Kiai
akan didialogkan lagi bersama-sama para santrinya.
Aku (Panggil Aku, Fauzan) bergegas angkat tangan
sebagai penanya pertama. “Pak Kiai, bisa nggak saya
berzina tanpa dosa. Dan mohon izinkan saya
melakukannya!” Para santri lainnya berteriak
mendengar pertanyaanku itu. Tetapi Pak Kiai
memintaku untuk mendekat. Aku pun menghampiri
dan duduk di samping beliau. Pak Kiai berkata padaku,
“Apakah kamu suka orang lain menzinai ibu mu?”
Segera Aku menjawab, “Tidak, semoga Allah menjadikan
diriku sebagai tebusan.” Pak Kiai melanjutkan “Begitu
pula orang lain, tidak ingin perzinaan itu terjadi pada
ibu-ibu mereka.” “Sukakah kamu jika perzinaan itu
terjadi pada anak perempuanmu?” “Tidak, semoga Allah
menjadikan aku sebagai tebusan.” “Begitu pula orang
lain, tidak ingin perzinaan itu terjadi pada anak
perempuan mereka.” “Sukakah kamu, jika perzinaan itu
terjadi pada saudara perempuanmu?”
Untuk semua pertanyaan Pak Kiai, aku menjawab,
“Tidak!” Pak Kiai meletakkan tangannya pada dadaku
seraya berdoa, “Ya Allah, sucikan hatinya, ampuni
dosanya, dan pelihara kehormatannya.” Setelah
peristiwa itu, aku mulai menancapkan keyakinan,
sekaligus berupaya terhindar dari perzinaan dan
menjaga keluargaku dari perbuatan tercela itu. ( Al
Manar, 4 :33) .
Setelah mendengarkan diskusi kami, salah seorang
santri, Utii , perlahan- lahan mengangkat tangan untuk
berkomentar. “Aku dulu suka memeras orang. Ya,
kadang-kadang dengan senjata tajam di tangan,
mencengkram atau merogoh kantong mereka. Sebab,
kelakuan begitu, kupikir enak. Tetapi kalau, kamu mulai
tua, kamu tidak ingin orang lain berbuat begitu
kepadamu. Kamu juga tidak bakalan rela seseorang
menyerang ibumu, mengambil dompetnya, atau apa
sajalah. Nah, aku mulai berpikir; aku tidak mau berbuat
seperti itu lagi; karena, bila ada orang berbuat seperti
itu kepada ibuku, aku siap membunuhnya. Ya, mulai
saat itu, aku menyesali apa yang sudah aku lakukan.”
Pak Kiai berargumen. “Ada benang emas yang
menghubungkan kedua peristiwa kalian. Manusia jadi
lebih baik, bila ia dapat merasakan pengalaman orang
lain, seperti kamu – sambil menunjuk si Utii, yang
mengalaminya sendiri. Kamu bukan saja
membayangkan pikiran atau perasaan orang lain. Kamu
melibatkan seluruh dirimu dalam pengalaman orang
lain. Kamu mengalaminya sendiri. Hal ini bisa disebut
sebagai ilmu mendatangkan”
Utii bertanya. “Pak Kiai, dapatkah setiap orang
‘mendatangkan’ pengalaman orang lain dalam
dirinya?”
Tidak selalu. Secara potensial, setiap orang dibekali
kemampuan untuk itu. Pada sebagiannya, potensi ini
teraktualisasi. Pada sebagian lagi, potensi ini terabaikan
sama sekali. Dalam sejarah kenabian, Kanjeng Rasul
Muhammad saw. diberitahu akan bencana beruntun
yang akan menimpa umat Islam sepeninggalnya, beliau
tidak bisa tidur. Beliau dilaporkan tidak pernah
tersenyum setelah itu. Kitab Suci menggambarkan
pengalaman Nabi Saw. dengan indah: Telah datang
kepadamu Rasul dari kaummu sendiri, berat baginya
kepedihan yang kamu tanggung. Ia ingin sekali kamu
memperoleh kebahagiaan, sangat lembut dan sangat
penyayang kepada kaum mukmin (QS 9:128) . Pada diri
Nabi, seluruh potensi ‘mendatangkan’ itu teraktualisasi.
Bagaimana dengan kalian. Apakah kalian sedih, ketika
jutaan ibu mati pada waktu melahirkan karena
kekurangan gizi, ketika tak terhitung pasien yang
meninggal ‘dipulangkan’ dari rumah sakit, karena tidak
sanggup membayar pengobatan, ketika banyak sekali
anak-anak sekolah meninggalkan sekolahnya dan
membakar tubuh mereka pada terik matahari, hanya
sekadar untuk bertahan hidup? Dapatkah kalian rasakan
kepedihan anak-anak kecil yang di yatimkan dengan
kerakusan para penguasa? Tergetarkah hati kalian,
ketika ribuan orang kehilangan pekerjaan karena proyek
besar para Penguasa? Apakah kalian merasakan
perihnya perut dan lesunya tubuh pegawai- pegawai
kalian yang kalian bayar dengan murah? Apakah kalian
marah, kecewa, dan sekaligus prihatin ketika kalian
mendengar TKI disiksa majikannya di Malaysia juga di
Arab?
Saya khawatir kalian menjawab “tidak” untuk semua
pertanyaan itu. Tetapi “tidak” kalian tidak sama dengan
“tidak” nya Fauzan yang saya tanyakan sebelumnya.
“Tidak” kalian menunjukkan betapa sulitnya
‘mendatangkan’ pengalaman orang lain, walaupun dia
saudara kalian sebangsa dan setanah air.
Sudah jadi tradisi, materi yang disampaikan Pak Kiai
akan didialogkan lagi bersama-sama para santrinya.
Aku (Panggil Aku, Fauzan) bergegas angkat tangan
sebagai penanya pertama. “Pak Kiai, bisa nggak saya
berzina tanpa dosa. Dan mohon izinkan saya
melakukannya!” Para santri lainnya berteriak
mendengar pertanyaanku itu. Tetapi Pak Kiai
memintaku untuk mendekat. Aku pun menghampiri
dan duduk di samping beliau. Pak Kiai berkata padaku,
“Apakah kamu suka orang lain menzinai ibu mu?”
Segera Aku menjawab, “Tidak, semoga Allah menjadikan
diriku sebagai tebusan.” Pak Kiai melanjutkan “Begitu
pula orang lain, tidak ingin perzinaan itu terjadi pada
ibu-ibu mereka.” “Sukakah kamu jika perzinaan itu
terjadi pada anak perempuanmu?” “Tidak, semoga Allah
menjadikan aku sebagai tebusan.” “Begitu pula orang
lain, tidak ingin perzinaan itu terjadi pada anak
perempuan mereka.” “Sukakah kamu, jika perzinaan itu
terjadi pada saudara perempuanmu?”
Untuk semua pertanyaan Pak Kiai, aku menjawab,
“Tidak!” Pak Kiai meletakkan tangannya pada dadaku
seraya berdoa, “Ya Allah, sucikan hatinya, ampuni
dosanya, dan pelihara kehormatannya.” Setelah
peristiwa itu, aku mulai menancapkan keyakinan,
sekaligus berupaya terhindar dari perzinaan dan
menjaga keluargaku dari perbuatan tercela itu. ( Al
Manar, 4 :33) .
Setelah mendengarkan diskusi kami, salah seorang
santri, Utii , perlahan- lahan mengangkat tangan untuk
berkomentar. “Aku dulu suka memeras orang. Ya,
kadang-kadang dengan senjata tajam di tangan,
mencengkram atau merogoh kantong mereka. Sebab,
kelakuan begitu, kupikir enak. Tetapi kalau, kamu mulai
tua, kamu tidak ingin orang lain berbuat begitu
kepadamu. Kamu juga tidak bakalan rela seseorang
menyerang ibumu, mengambil dompetnya, atau apa
sajalah. Nah, aku mulai berpikir; aku tidak mau berbuat
seperti itu lagi; karena, bila ada orang berbuat seperti
itu kepada ibuku, aku siap membunuhnya. Ya, mulai
saat itu, aku menyesali apa yang sudah aku lakukan.”
Pak Kiai berargumen. “Ada benang emas yang
menghubungkan kedua peristiwa kalian. Manusia jadi
lebih baik, bila ia dapat merasakan pengalaman orang
lain, seperti kamu – sambil menunjuk si Utii, yang
mengalaminya sendiri. Kamu bukan saja
membayangkan pikiran atau perasaan orang lain. Kamu
melibatkan seluruh dirimu dalam pengalaman orang
lain. Kamu mengalaminya sendiri. Hal ini bisa disebut
sebagai ilmu mendatangkan”
Utii bertanya. “Pak Kiai, dapatkah setiap orang
‘mendatangkan’ pengalaman orang lain dalam
dirinya?”
Tidak selalu. Secara potensial, setiap orang dibekali
kemampuan untuk itu. Pada sebagiannya, potensi ini
teraktualisasi. Pada sebagian lagi, potensi ini terabaikan
sama sekali. Dalam sejarah kenabian, Kanjeng Rasul
Muhammad saw. diberitahu akan bencana beruntun
yang akan menimpa umat Islam sepeninggalnya, beliau
tidak bisa tidur. Beliau dilaporkan tidak pernah
tersenyum setelah itu. Kitab Suci menggambarkan
pengalaman Nabi Saw. dengan indah: Telah datang
kepadamu Rasul dari kaummu sendiri, berat baginya
kepedihan yang kamu tanggung. Ia ingin sekali kamu
memperoleh kebahagiaan, sangat lembut dan sangat
penyayang kepada kaum mukmin (QS 9:128) . Pada diri
Nabi, seluruh potensi ‘mendatangkan’ itu teraktualisasi.
Bagaimana dengan kalian. Apakah kalian sedih, ketika
jutaan ibu mati pada waktu melahirkan karena
kekurangan gizi, ketika tak terhitung pasien yang
meninggal ‘dipulangkan’ dari rumah sakit, karena tidak
sanggup membayar pengobatan, ketika banyak sekali
anak-anak sekolah meninggalkan sekolahnya dan
membakar tubuh mereka pada terik matahari, hanya
sekadar untuk bertahan hidup? Dapatkah kalian rasakan
kepedihan anak-anak kecil yang di yatimkan dengan
kerakusan para penguasa? Tergetarkah hati kalian,
ketika ribuan orang kehilangan pekerjaan karena proyek
besar para Penguasa? Apakah kalian merasakan
perihnya perut dan lesunya tubuh pegawai- pegawai
kalian yang kalian bayar dengan murah? Apakah kalian
marah, kecewa, dan sekaligus prihatin ketika kalian
mendengar TKI disiksa majikannya di Malaysia juga di
Arab?
Saya khawatir kalian menjawab “tidak” untuk semua
pertanyaan itu. Tetapi “tidak” kalian tidak sama dengan
“tidak” nya Fauzan yang saya tanyakan sebelumnya.
“Tidak” kalian menunjukkan betapa sulitnya
‘mendatangkan’ pengalaman orang lain, walaupun dia
saudara kalian sebangsa dan setanah air.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar